Mengenal Wayang

Proses Pembuatan Wayang

Dari selembar kulit kerbau mentah sampai menjadi wayang yang siap dimainkan. Gulir untuk mengikuti setiap tahapnya, dengan wayang Wisanggeni sebagai contoh.

Urutan dan istilah di halaman ini mengikuti kebiasaan umum para penatah gagrag Surakarta. Setiap penatah dan sanggar dapat mempunyai cara dan sebutannya sendiri.

Adegan 3D untuk tahap ini sedang dibuat

  1. Tahap 1 dari 11I

    Kulit kerbau

    kulitꦏꦸꦭꦶꦠ꧀

    Wayang kulit purwa dibuat dari kulit kerbau. Penatah memilih lembaran yang tebalnya rata, tidak banyak bekas luka, dan cukup lebar untuk satu tokoh; tokoh besar seperti raksasa memerlukan hampir selembar kulit utuh.

    Kulit yang masih mentah berbulu, berlemak, kaku, dan tidak tembus cahaya. Tahap-tahap berikutnya mengubahnya menjadi lembaran tipis yang kuat, rata, dan dapat ditembus cahaya blencong.

    Bahan
    kulit kerbau mentah
  2. Tahap 2 dari 11II

    Merendam dan membentangkan

    Kulit direndam dalam air sampai lemas. Sesudah itu kulit dibentangkan pada bingkai bambu atau kayu, diikat dengan tali di sekelilingnya, lalu ditarik sedikit demi sedikit sampai tegang dan rata.

    Dalam keadaan terbentang, kulit dikeringkan. Bentangan inilah yang membuat lembaran tetap datar dan tidak melengkung di kemudian hari.

    Alat
    bingkai bambu atau kayu, tali
    Bahan
    air
  3. Tahap 3 dari 11III

    Mengerok bulu dan lemak

    ngerokꦔꦼꦫꦺꦴꦏ꧀

    Selagi terbentang, kulit dikerok dengan pisau kerok: bulu di satu sisi, sisa daging dan lemak di sisi lainnya. Pengerokan dilakukan sedikit demi sedikit sampai tebal kulit sama di seluruh bagian.

    Kulit yang telah dikerok berwarna kuning gading dan sedikit tembus cahaya. Sesudah kering, permukaannya dihaluskan supaya siap digambari.

    Alat
    pisau kerok, batu asah atau amplas
  4. Tahap 4 dari 11IV

    Menggambar pola

    nyorekꦚꦺꦴꦫꦺꦏ꧀

    Kulit dilepas dari bingkai, lalu bentuk tokoh digambar di atasnya. Penatah biasanya memakai pola dari wayang atau gambar yang sudah ada, supaya ukuran dan bentuknya sesuai pakem: tinggi badan, letak bahu, bentuk mahkota, dan sikap kaki.

    Yang digambar bukan hanya garis tepi, tetapi juga garis-garis dalam yang nanti menjadi pedoman tatahan dan sunggingan. Kedua lengan digambar terpisah dari badan.

    Alat
    pensil atau penggores, pola
  5. Tahap 5 dari 11V

    Memahat tatahan

    natahꦤꦠꦃ

    Kulit diletakkan di atas landasan kayu keras (pandhukan), lalu dilubangi dengan tatah, pahat kecil yang dipukul dengan palu kayu (ganden). Seorang penatah memiliki puluhan tatah dengan mata yang berbeda, lurus, melengkung, atau bulat, masing-masing untuk satu bentuk lubang.

    Lubang-lubang itu disusun menjadi pola yang bernama, seperti bubukan (titik-titik bulat), inten-intenan (seperti berlian kecil), dan mas-masan. Rambut, mahkota, kain, dan perhiasan masing-masing mempunyai tatahannya sendiri.

    Terakhir, figur dipotong dari sisa kulit mengikuti garis tepinya. Natah adalah tahap yang paling lama; satu wayang dapat memerlukan berminggu-minggu.

    Tatahan pada gambar ini adalah tatahan asli wayang Wisanggeni, difoto di depan layar putih.

    Alat
    tatah berbagai ukuran, ganden (palu kayu), pandhukan (landasan kayu)
  6. Tahap 6 dari 11VI

    Lapisan dasar

    Sebelum diwarnai, seluruh permukaan wayang diberi lapisan dasar putih. Secara tradisional lapisan ini dibuat dari bubuk tulang yang dicampur perekat (ancur); kini banyak juga yang memakai cat dasar.

    Lapisan dasar menutup pori-pori kulit, membuat warna sunggingan lebih cerah, dan membuatnya bertahan lama.

    Alat
    kuas
    Bahan
    bubuk tulang, ancur (perekat)
  7. Tahap 7 dari 11VII

    Mewarnai

    nyunggingꦚꦸꦔ꧀ꦒꦶꦁ

    Penyungging mewarnai wayang bertingkat, dari warna paling muda ke yang paling tua, sehingga setiap bidang tampak bergradasi.

    Bagian tertentu, seperti badan, perhiasan, dan mahkota, diberi prada, yaitu lapisan emas: dahulu daun emas, kini sering bubuk emas tiruan. Terakhir digoreskan garis-garis halus dan titik-titik kecil dengan tinta hitam untuk mempertegas bentuk.

    Warna wajah dan badan dipilih menurut watak tokohnya.

    Makna warna wajah →

    Alat
    kuas halus, pena
    Bahan
    cat, prada (emas), tinta hitam
  8. Tahap 8 dari 11VIII

    Gapit dari tanduk

    gapitꦒꦥꦶꦠ꧀

    Tangkai wayang dibuat dari tanduk kerbau. Tanduk dipanaskan di atas api sampai lentur, lalu diluruskan dan dibentuk sedikit demi sedikit, diraut, dan digosok sampai mengilap.

    Satu wayang memerlukan sebatang gapit utama yang menjepit badan dari kaki sampai kepala, dengan ujung runcing untuk ditancapkan pada batang pisang (gedebog), dan dua tuding kecil untuk menggerakkan tangan.

    Alat
    api, pisau raut, amplas
    Bahan
    tanduk kerbau
  9. Tahap 9 dari 11IX

    Bagian-bagian wayang

    Sebelum dirakit, sebuah wayang terdiri dari: badan dengan kepala dan kaki dalam satu lembar, dua lengan atas, dua lengan bawah beserta tangannya, gegel untuk sendi, gapit, dan dua tuding.

    Setiap bagian sudah ditatah dan disungging sendiri-sendiri. Label pada gambar menunjukkan nama setiap bagian.

  10. Tahap 10 dari 11X

    Merakit

    Lengan atas disambung ke bahu, dan lengan bawah ke siku, dengan gegel: paku kecil dari tanduk, tulang, atau logam yang dikeling sehingga sendinya dapat berputar.

    Tuding diikat pada telapak tangan dengan benang, lalu gapit dijepitkan pada badan dan diikat dengan benang di beberapa titik. Wayang kini dapat digerakkan seperti di tangan dalang.

    Alat
    gegel, benang
  11. Tahap 11 dari 11XI

    Jadi wayang

    wayangꦮꦪꦁ

    Wayang Wisanggeni ini selesai. Di depan blencong, tatahannya menjadi bayangan berpola di kelir, sedangkan sunggingannya tampak oleh penonton yang duduk di sisi dalang.

Mengenal Wayang

Cara membaca wayang

Sebuah wayang kulit dapat dibaca. Bentuk mahkota, raut wajah, warna, mata, sikap tubuh, dan tatahannya memberi tahu siapa tokohnya dan bagaimana wataknya. Halaman ini menunjukkan cara membacanya, dengan wayang 3D sebagai contoh.

Wayang No. 2Memuat wayang 3D…
  1. Bagian 1 dari 14I

    Bagian-bagian wayang

    Wayang kulit purwa dibuat dari selembar kulit kerbau yang ditatah dan disungging. Kepala, badan, dan kaki menyatu dalam satu lembar; kedua lengan dibuat terpisah dan disambung di bahu dan siku dengan gegel, sehingga dapat digerakkan. Sebatang gapit dari tanduk menjepit badan dari bawah sampai kepala, dan setiap tangan diberi gapit kecil untuk menggerakkan lengan.

    Bagian-bagian yang ditandai pada wayang: Mahkota (makutha), Wajah (wanda), Rambut (rambut), Kuku pancanaka (kuku pancanaka), Busana (dodot), Pijakan (palemahan), Gapit utama (gapit), Tuding (tuding).

    Ketuk label pada wayang untuk mendekat ke bagian itu. Seret gapit atau tangan untuk menggerakkan lengan. No. 2 · Anoman →

  2. Bagian 2 dari 14II

    Mahkota

    makutha

    Mahkota dan hiasan kepala Anuman ditatah dari lembar kulit yang sama dengan wajah. Bentuk dan hiasan emasnya menandai kedudukannya sebagai utusan Rama.

  3. Bagian 3 dari 14III

    Wajah

    wanda

    Wajah kera putih ini dibentuk dari profil yang tegas: mata bundar, hidung panjang, dan mulut bergigi. Warna putih dan raut wajahnya langsung mengenalkan Anuman.

  4. Bagian 4 dari 14IV

    Rambut

    rambut

    Gelung rambut hitam di belakang kepala ditatah berlubang, sehingga cahaya blencong dapat menembusnya dan membentuk bayangan bertekstur di kelir.

  5. Bagian 5 dari 14V

    Kuku pancanaka

    kuku pancanaka

    Kuku panjang dan runcing di ujung tangan adalah kuku pancanaka, senjata khas Anuman. Dalam pertunjukan, gerakan tangan dan gapit membuat kuku ini tampak mencengkeram atau menunjuk.

  6. Bagian 6 dari 14VI

    Busana

    dodot

    Kain dan hiasan pinggang Anuman dipenuhi motif batik dan sunggingan emas. Tatahan halusnya membuat pola tetap terbaca saat wayang tampil sebagai bayangan.

  7. Bagian 7 dari 14VII

    Pijakan

    palemahan

    Bilah merah di antara kaki adalah pijakan wayang. Kuda-kuda lebar memberi kesan tegap dan siap bergerak, sesuai watak Anuman sebagai panglima wanara.

  8. Bagian 8 dari 14VIII

    Gapit utama

    gapit

    Gapit utama menjepit badan wayang dari tengah dan berujung runcing. Dalang memegangnya untuk menancapkan wayang ke gedebog atau mengangkatnya dari kelir.

  9. Bagian 9 dari 14IX

    Tuding

    tuding

    Batang tipis yang tersambung ke tangan kanan ini adalah tuding. Dengan menariknya, dalang dapat mengubah posisi lengan tanpa memegang wayang dengan tangan yang sama.

  10. Bagian 10 dari 14X

    Wanda

    Wanda adalah raut wajah dan sikap yang menunjukkan suasana hati seorang tokoh. Satu tokoh dapat dibuat dalam beberapa wanda, misalnya untuk adegan tenang, sedih, atau marah, dan dalang memilih wanda yang sesuai dengan adegannya.

    Perbedaan antarwanda sering halus: tunduk kepala yang sedikit berbeda, bentuk mata, lengkung bahu, atau warna wajah. Karena itu wanda dicatat bersama nama tokohnya, seperti pada wayang di koleksi ini.

    Wajah wanda · Wajah kera putih ini dibentuk dari profil yang tegas: mata bundar, hidung panjang, dan mulut bergigi. Warna putih dan raut wajahnya langsung mengenalkan Anuman.

  11. Bagian 11 dari 14XI

    Warna wajah

    Warna wajah tidak menggambarkan warna kulit, melainkan watak dan suasana. Secara umum:

    • hitam: tenang, matang, dan teguh;
    • emas (prada): agung dan indah, sering dipakai untuk tampilan yang paling resmi;
    • merah: berani, mudah marah, atau dikuasai nafsu;
    • putih: muda, suci, atau jujur;
    • biru dan warna lain: dipakai untuk tokoh-tokoh tertentu, termasuk banyak tokoh sabrangan dan raksasa.

    Makna ini adalah pedoman, bukan aturan mutlak: warna yang sama dapat berbeda maknanya antara gagrag dan antarpembuat.

    Wajah wanda · Wajah kera putih ini dibentuk dari profil yang tegas: mata bundar, hidung panjang, dan mulut bergigi. Warna putih dan raut wajahnya langsung mengenalkan Anuman.

  12. Bagian 12 dari 14XII

    Mata dan hidung

    Bentuk mata dan hidung membedakan tokoh halus dari tokoh gagah dan raksasa.

    • mata liyepan, sipit seperti setengah terpejam: tokoh halus dan tenang;
    • mata kedelen, berbentuk seperti biji kedelai: tokoh gagah;
    • mata thelengan atau plelengan, bulat dan melotot: tokoh kasar, pemberani, dan raksasa.

    Hidung mengikuti mata: tipis dan runcing pada tokoh halus, makin besar dan membulat pada tokoh gagah dan raksasa.

    Wajah wanda · Wajah kera putih ini dibentuk dari profil yang tegas: mata bundar, hidung panjang, dan mulut bergigi. Warna putih dan raut wajahnya langsung mengenalkan Anuman.

  13. Bagian 13 dari 14XIII

    Sikap tubuh

    Kepala yang menunduk (tumungkul) menandakan tokoh yang tenang dan rendah hati; kepala yang mendongak (langak) menandakan tokoh yang angkuh atau bersemangat.

    Kaki juga berbicara. Kaki yang rapat menandakan tokoh halus; kuda-kuda yang lebar, seperti pada wayang Sabrangan, menandakan tokoh yang kuat dan gagah.

  14. Bagian 14 dari 14XIV

    Tatah dan sungging

    Tatah adalah pekerjaan melubangi kulit dengan pahat-pahat kecil. Pola lubangnya, dari titik-titik halus sampai deretan berlian kecil, membuat cahaya blencong menembus wayang sehingga bayangannya di kelir tetap berpola.

    Sungging adalah pewarnaan sesudahnya: warna disusun bertingkat dari muda ke tua, lalu bagian tertentu diberi prada (lapisan emas). Mutu sebuah wayang dinilai dari kerapian tatahan dan kehalusan sunggingannya.

    Proses pembuatan →

    Busana dodot · Kain dan hiasan pinggang Anuman dipenuhi motif batik dan sunggingan emas. Tatahan halusnya membuat pola tetap terbaca saat wayang tampil sebagai bayangan.