Sumber
- Tokoh Wayang Terkemuka, Solichin (2016), Sena wangi | ISBN : 9786029895650
Tokoh · Wanara
Kera putih, utusan Rama
Anoman adalah kera berbulu putih, putra Dewi Anjani. Konon namanya berasal dari kata sinom, yaitu pucuk daun asam. Ketika Anjani bertapa di Sungai Gangga, sehelai daun sinom diterbangkan angin dari angkasa lalu masuk ke mulutnya. Daun itu sudah tertempel kama (benih) Batara Guru, sehingga Anjani hamil dan kemudian melahirkan Anoman.
Anoman juga dikenal dengan nama Maruti, karena ia anak angkat sekaligus murid Batara Maruta, dewa angin. Karena itu ia kadang disebut pula Bayu putra.
Setelah dewasa, Anoman bertanya kepada ibunya siapa ayahnya yang sebenarnya. Anjani menyuruhnya bertanya kepada dewa penguasa Triloka (tiga dunia).
Sejak kecil Anoman sudah sakti, pemberani, dan sangat ingin tahu, sesuai nalurinya sebagai kera. Suatu pagi ia mengira matahari adalah buah ranum, lalu menelannya sehingga dunia menjadi gelap gulita. Para dewa membujuknya agar memuntahkan matahari itu. Anoman bersedia dengan satu syarat: ia harus diberi tahu siapa ayahnya. Batara Guru lalu mengaku bahwa Anoman adalah putranya, dan Anoman bersujud memberi hormat.
Resi Narada menyaksikan peristiwa itu dan menyindir Batara Guru sambil bercanda: masa raja para dewa punya anak kera? Batara Guru tersinggung. Ia memetik daun nila dan menempelkannya ke punggung Narada. Dengan kesaktian sabdanya, daun itu berubah menjadi kera biru yang diberi nama Anila.
Sejak saat itu Batara Guru memerintahkan setiap dewa untuk memiliki seekor anak kera. Kera-kera itu mengikuti Anoman turun ke bumi dan mengabdi kepada Prabu Sugriwa di Kerajaan Kiskenda. Kelak mereka menjadi bala tentara Rama yang terkenal sakti.
Rama ingin memastikan bahwa Sinta benar-benar ditawan di Alengka, lalu menunjuk Anoman sebagai utusan. Dalam dunia pedalangan kisah ini dikenal sebagai lakon Anoman Duta. Pancawati dan Alengka dipisahkan samudra luas, sehingga Anoman harus terbang ke sana.
Perjalanannya penuh ujian. Ketika terbang di atas laut, ia tiba-tiba tersedot dan ditelan Wil Kataksini, katak raksasa anak buah Rahwana. Anoman mengamuk di dalam perut monster itu dan menghancurkan isi perutnya dari dalam hingga Kataksini mati.
Setelah melewati berbagai rintangan, Anoman sampai di Taman Soka dan bertemu Dewi Sinta yang ditemani Dewi Trijata, putri Wibisana. Anoman jatuh hati pada keramahan dan kecantikan Trijata, tetapi cintanya tidak kesampaian.
Kedatangan Anoman membesarkan hati Sinta. Ia melantunkan tembang wanara seta (tembang kera putih) yang menceritakan keadaan Rama, dan Sinta terhibur serta kembali berharap dapat bertemu Rama. Anoman menyerahkan tanda mata dari Rama berupa cincin Sotyaludira. Sebagai balasan, Sinta menitipkan kancing gelung (tusuk konde) untuk Rama.
Setelah meninggalkan Taman Soka, Anoman menjalankan tugasnya sebagai mata-mata. Ia memetakan kekuatan Alengka: keadaan kota, gudang senjata, dan perkiraan jumlah pasukan. Lalu ia sengaja merusak bangunan di sekitar taman untuk memancing perhatian para prajurit. Prajurit Alengka menyerbu, tetapi Anoman dengan mudah menghindar sambil terus merusak. Akhirnya putra mahkota Indrajit melepaskan pusaka panah rantai yang membelenggu Anoman.
Anoman kemudian hendak dibakar hidup-hidup di tengah alun-alun. Sifat usil dan isengnya pun kambuh: api unggun yang membakarnya ia angkat dan bawa terbang, lalu ia sebarkan ke segala penjuru. Kota Alengka yang megah habis dilalap api. Prabu Rahwana murka dan memaki kera putih itu dengan sumpah serapah. Anoman segera pulang ke Pancawati dan melaporkan kepada Rama bahwa tugasnya berhasil.
Ketika Rama membangun tambak (jembatan) untuk menyeberang ke Alengka, Anoman iba melihat para prajurit kera bekerja begitu berat. Ia pun ber-triwikrama: tubuhnya membesar bagai samudra pasang, menjulang seperti raksasa menggapai langit, dan matanya bagai dua matahari. Ia mencabut bukit Setubanda dan menanamnya di tengah laut untuk membendung samudra. Karena itu bendungan tersebut dinamai Tambak Setubanda. Berkat upaya Anoman, pembangunan jembatan berjalan lancar.
Kekuatan dan kesaktian Anoman setara dengan Prabu Sugriwa, tetapi ia lebih muda, lebih cerdas, dan lebih rendah hati. Ia selalu menjadi pengawal pribadi Rama dan tidak pernah sekejap pun berpisah dari junjungannya selama perang di Swelagiri.
Anoman adalah pahlawan Ramayana. Para pemuja Wisnu dengan penuh cinta menyebutnya Ramadayapati, abdi terkasih Rama yang sakti. Ketika Rahwana gugur, Anoman mengangkat gunung Selon dan menindihkannya ke jasad Rahwana agar raja raksasa itu tidak bangkit lagi.
Kesetiaan Anoman kepada titisan Dewa Wisnu tidak berhenti pada Rama. Sampai zaman Mahabharata ia tetap dekat dengan titisan Wisnu berikutnya, yaitu Kresna.
Anoman dikaruniai umur panjang. Dewa Wisnu mewajibkannya menjaga Pandawa dan seluruh keturunannya dari gangguan sukma Rembuculung, yaitu roh Dasamuka (Rahwana). Karena itu, dalam lakon yang menampilkan roh jahat yang menyamar seperti Dasasukma atau Godayitma, penyelesaiannya selalu di tangan Anoman, yang pada masa itu lazim disebut Begawan Kapiwara.
Sumber: Dr. Suyanto, 2014.